Manusia sebagai Khalifah dan Pengabdi: Kajian Menurut Al-Quran dan Sunnah
Masjid Darul Arqom, 1 Agustus 2025-Selepas sholat Subuh, jamaah dimakmurkan dengan kajian yang mendalam oleh Ustadz Zuhri, yang mengupas fungsi diciptakannya manusia dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis.
Ustadz Zuhri membuka kajian dengan menegaskan bahwa fungsi utama manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah (pemimpin/pengelola bumi) dan abd (pengabdi atau hamba). Dua peran ini melekat dalam fitrah manusia yang Allah ciptakan dengan kemuliaan dan tanggung jawab besar.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’
Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun malaikat mempertanyakan tujuan penciptaan manusia, Allah menegaskan bahwa kehendak-Nya didasarkan pada ilmu dan kebijaksanaan-Nya yang Maha Luas. Manusia diberi amanah untuk menjalankan kehidupan dengan tanggung jawab sebagai pengelola bumi dan penyebar nilai-nilai kebaikan
Fungsi utama penciptaan manusia ditegaskan secara eksplisit dalam QS. Az-Zariyat ayat 56:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Ustadz Zuhri menjelaskan bahwa pengabdian ini tidak sebatas ibadah ritual, melainkan seluruh aspek kehidupan yang dijalankan sesuai dengan perintah Allah dan contoh dari Rasulullah
Ibadah mencakup dimensi luas yang tidak hanya terbatas pada salat, puasa, dan haji. Memberi sedekah, menuntut ilmu, dan mengajarkan kebaikan juga termasuk dalam kategori ibadah apabila dilakukan dengan niat yang lurus karena Allah. Semua aktivitas yang bernilai maslahat bagi umat, selama tidak melanggar syariat, juga bernilai ibadah.
Ustadz Zuhri kemudian menjelaskan enam pilar utama dalam beribadah kepada Allah SWT:
- Tauhid sebagai Fondasi
Ibadah hanya sah jika dilandasi tauhid. Tidak ada ibadah yang diterima tanpa pengesaan Allah. QS. Al-Fatihah ayat 5 menjadi fondasi dasar:
“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’ in ” (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan).”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mencontohkan dalam doanya agar dirinya dan keturunannya tetap istiqamah dalam tauhid:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat” (QS. Ibrahim: 40).
- Bertawassul yang Sesuai Syariat
Ibadah tu lanngsung tidak melalu perantara, jikapun bertawasul, hendaknya tawasul yang sesuai dengan ketentuan agama. Misalnya menggunakan asmaul husna atau amal saleh, bukan kepada orang yang telah wafat. Firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 180:
“Dan Allah mempunyai nama-nama yang indah, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang indah itu.”
- Ikhlas dalam Beribadah
Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal. Ikhlas tidak berarti semua harus sembunyi-sembunyi; ada ibadah yang terang-terangan seperti salat berjamaah, khutbah, atau dakwah, namun tetap diniatkan untuk Allah.
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Mengikuti Sunnah Rasulullah
Ibadah yang tidak sesuai dengan contoh Rasulullah tertolak. Cinta kepada Nabi dibuktikan dengan mengamalkan sunah beliau. Dalam hadis riwayat Muslim:
“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”
- Mempermudah, Tidak Memberatkan
Syariat Islam datang dengan kemudahan. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
Namun, dalam konteks pendidikan (tarbiyah), kadang-kadang seorang guru atau orang tua melatih diri atau anaknya dengan disiplin untuk membiasakan kebaikan.
- Dimensi Vertikal dan Horizontal
Ibadah tidak hanya hubungan dengan Allah (hablumminallah), tetapi juga mencakup hubungan baik dengan sesama manusia (hablumminannas). Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)
Melalui kajian subuh ini, Ustadz Zuhri mengajak jamaah untuk merenungi kembali misi penciptaan manusia: menjadi hamba yang taat dan khalifah yang adil. Ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan yang dijalani sesuai syariat. Dengan fondasi tauhid, keikhlasan, dan keteladanan Rasulullah , serta kesadaran sosial, kita dapat menjalani hidup yang bermakna dan berorientasi akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengabdi kepada-Nya dengan benar dan mendapatkan ridha-Nya. Aamiin.
Isi ceramah diolah dengan bahasa tulisan oleh Muslimah sekretaris PWA Kalteng.