Hakekat Kemerdekaan dalam Islam: Renungan Bersama Dr. Muslimah di RRI Pro 1 Palangka Raya

SHARE

Palangka Raya, 13 Agustus 2025- Dalam rangka menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dr. Muslimah, S.Ag., M.Pd.I., pengurus Majelis Dakwah MUI Kalimantan Tengah, hadir mengisi siaran Mutiara Agama Islam di RRI Pro 1 Palangka Raya. Dengan tema “Hakekat Kemerdekaan dalam Islam”, beliau mengajak umat Islam untuk merenungkan arti kemerdekaan yang sesungguhnya dalam perspektif ajaran Islam.

Dr. Muslimah memulai tausiyahnya dengan mengingatkan pentingnya bersyukur atas nikmat besar berupa kemerdekaan bangsa Indonesia. Tahun 2025 ini, Indonesia telah memasuki usia 80 tahun kemerdekaan. Beliau menegaskan bahwa rasa syukur adalah kunci keberkahan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Dengan penuh rasa syukur, beliau mengajak jamaah pendengar untuk senantiasa mengenang jasa para pahlawan bangsa yang telah berjuang dengan darah dan air mata demi meraih kemerdekaan, serta mendoakan agar Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada mereka.

Mengangkat pertanyaan reflektif “Sudahkah kita merdeka?” Dr. Muslimah mengajak masyarakat untuk merenungkan makna kemerdekaan. Menurut beliau, kemerdekaan tidak hanya bermakna terbebas dari penjajahan bangsa asing, tetapi juga menyangkut kebebasan jiwa, iman, dan pikiran dalam menjalani kehidupan sehari-hari sesuai tuntunan Islam.

Dalam penjelasannya, Dr. Muslimah menyampaikan bahwa hakikat kemerdekaan dalam Islam memiliki beberapa dimensi penting, yaitu:

  1. Kemerdekaan dari Penjajahan Fisik

Para pejuang bangsa telah memberikan teladan perjuangan yang luar biasa dalam merebut kemerdekaan. Namun kini, tantangan generasi penerus bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengisi kemerdekaan dengan amal terbaik.

  1. Kemerdekaan dari Belenggu Diri Sendiri

Beliau menekankan bahwa kemerdekaan sejati adalah terbebas dari hawa nafsu, sifat malas, tamak, dan penyakit hati yang membelenggu manusia. Rasulullah SAW mengajarkan doa yang indah dibaca pagi dan sore:

"Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa ini, menurut Dr. Muslimah, adalah bentuk permohonan agar kita terjaga dari belenggu dosa, penyakit hati, dan segala yang menghalangi kita meraih kemerdekaan batin.

  1. Kemerdekaan dalam Menjalankan Agama

Islam menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Setiap Muslim harus menjadikan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk menunaikan ibadah sesuai dengan syariat. Allah SWT berfirman:

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256)

  1. Kemerdekaan dalam Berpendapat dengan Bijak

Di era digital, kebebasan berpendapat menjadi bagian dari hak setiap warga negara. Namun Dr. Muslimah mengingatkan bahwa kebebasan itu harus dibingkai dengan tanggung jawab, kapasitas, dan manfaat. Terlebih di media sosial, umat Islam dituntut bijak dalam menulis, berbicara, dan menyebarkan informasi. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di akhir tausiyahnya, Dr. Muslimah mengajak seluruh umat Islam untuk mengisi kemerdekaan dengan karya, amal shaleh, dan syukur yang nyata. “Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajah, tetapi juga terbebas dari segala hal yang menghalangi kita untuk dekat dengan Allah SWT,” ujarnya.

Beliau menutup dengan doa untuk bangsa Indonesia agar senantiasa dalam lindungan Allah, diberi keberkahan, dan masyarakatnya mampu mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai Islami yang menyejahterakan umat dan bangsa.(Bn)